Aulia Fatimatuz Zahra
Magister History – Süleyman Demirel Üniversitesi
Gerbang Pembuka Hubungan Turki-Indonesia
Hubungan diplomatik antara Turki-Indonesia tidak hanya dijalin saat keduanya telah lahir menjadi negara modern, namun telah ditanam dan dipupuk sejak lama bahkan sebelum memiliki nama seperti saat ini, Turki dan Indonesia. Awal mula hubungan tersebut dimulai saat wilayah Indonesia belum bersatu dan masih terdiri dari berbagai kerajaan muslim. Kerajaan Aceh yang merupakan kerajaan muslim di Nusantara yang pertama kali melakukan kontak dengan Kesultanan Ottoman (Turki) pada abad ke-16. Lokasi Kerajaan Aceh yang sangat strategis dengan kekayaan alam dan rempah yang melimpah mengundang para pedagang internasional untuk singgah ke pelabuhannya. Kedamaian Kerajaan Aceh tentunya tidak lepas dari usikan para penjajah dari Barat untuk merebut wilayahnya (Zuboidi, 2018).
Pada abad ke-16 sekitar tahun 1538-1539, Portugis yang telah sampai di Malaka berkeinginan untuk menguasai Aceh karena wilayahnya sangat strategis dan sumber dayanya yang melimpah. Perselisihan antara Kerajaan Aceh dengan Suku Batak dimanfaatkan oleh Portugis untuk ikut campur tangan. Tekanan tersebut membuat Sultan Aceh, Alaeddin Syah, berkeinginan mencari bantuan untuk menghadapi Portugis. Sultan Aceh mendengar berita bahwa pada tahun 1535 penguasa Gujarat mendapat bantuan dari Kesultanan Ottoman untuk melawan Portugis. Kabar tersebut menjadi angin segar yang membawa harapan bagi Aceh untuk dapat mengalahkan Portugis. Bekerjasama dengan Suku Batak yang Tengah berselisih dengan Kerajaan Aceh, Portugis berusaha melancarkan serangan terhadap Aceh (Özay, 2006).
Berdasarkan catatan Pinto yang merupakan seorang penjelajah Portugis, sembilan serangan dalam tujuh puluh hari dilancarkan oleh Portugis untuk berusaha merebut wilayah Aceh. Dalam pertempuran itu disebutkan bahwa dikalangan pasukan Aceh terdapat tantara-tentara Turki dengan keterampilan perang yang mumpuni. Pertologan pertama yang diberikan oleh Kesultanan Ottoman kepada Aceh menjadi awal hubungan diplomatik diantara keduanya. Setelahnya, Kerajaan Aceh memberikan izin kepada tantara-tentara Turki untuk membangun pemukiman di wilayah Aceh. Pertolongan yang diberikan kepada Aceh terus berlanjut pada tahun-tahun berikutnya. Memberikan bantuan terhadap saudara sesama muslim merupakan salah satu misi Kesultanan Ottoman sebagai penguasa Islam terkuat pada masa itu. Akhirnya hubungan berubah menjadikan Aceh sebagai negara vasal Ottoman (berada di bawah perlindungan Ottoman).
Berlanjutnya Hubungan Turki-Indonesia Abad 19
Jarak yang jauh tidak membatasi terbentuknya hubungan yang terjalin erat antara Turki dan Indonesia. Hubungan diplomatik yang terbentuk menghasilkan perjanjian yang memberikan kebebasan pajak bagi Turki untuk melakukan perdagangan di pelabuhan-pelabuhan Aceh. Selain itu, Sultan Ottoman memberikan bantuan militer dan persenjataan pada Aceh untuk memperkuat kedudukannya dalam melawan Portugis. Sejak abad ke-16, pertolongan kepada Aceh terus berlanjut hingga beberapa kali. Dalam permohonan bantuan tersebut, Sultan Aceh beberapa kali mengirimkan utusan ke Istanbul untuk mengirimkan surat dan bertemu dengan Sultan Ottoman secara langsung (Muhammad Haykal, 2022).
Kolonialisasi yang terus dilancarkan oleh negara-negara Barat membuat hubungan antara Ottoman dan Nusantara terus berlanjut. Meskipun pada abad ke-17 tidak ada catatan resmi yang menjadi bukti hubungan tersebut, namun diyakini bahwa hubungan antara Ottoman dan wilayah Nusantara tetap ada. Relasi yang terjalin dengan Kesultanan Ottoman tidak hanya terbatas dengan Kerajaan Aceh. Berdasarkan arsip-arsip Ottoman, disebutkan bahwa Kesultanan Ottoman juga menjalin hubungan dengan penduduk muslim di Jawa. Kesultanan Ottoman berperan sebagai penjaga bagi umat muslim Indonesia yang melaksanakan ibadah haji. Pada masa tersebut perjalanan ibadah haji dilakukan menggunakan kapal dan dengan bantuan Ottoman para jamaah haji dari Indonesia dapat melakukan haji dengan tenang tanpa harus takut terhadap serangan dalam perjalanan haj (I. H. Goksoy, 1998).
Selanjutnya, ada abad ke-19, Belanda yang semakin kuat menguasai Indonesia berusaha mengokohkan posisinya dengan berkeinginan menguasai wilayah Aceh yang dinilai strategis. Tekanan Belanda membuat Aceh kembali mengirimkan permohonan bantuan kepada Kesultanan Ottoman. Pada dasarnya, Kerajaan Belanda dan Kesultanan Ottoman mempunyai hubungan yang cukup baik. Hubungan antara Belanda dan Ottoman terjalin sejak abad 16 yang ditandai dengan dibawanya umbi bunga Tulip ke Belanda. Hubungan tersebut terus berlanjut meskipun disaat yang sama Belanda melakukan kolonialisasi di wilayah Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari adanya Kedutaan Belanda di Istanbul dan Kedutaan Turki di Batavia (Jakarta) (Mehmet Akif Terzi, 2017). Hubungan antara Belanda-Ottoman dan Ottoman-Indonesia rupanya memberikan dampak bagi Belanda dalam bertindak meskipun tidak secara signifikan. Kesultanan Ottoman membuktikan dirinya sebagai penguasa muslim yang berpengaruh pada zamannya sebagai pertimbangan Belanda dalam melakukan kolonialisasi (Yurdakul, 2005).
Keinginan Belanda untuk menginvasi wilayah Aceh pada abad ke-19, terus dipertimbangkan. Hubungan antara Kesultanan Ottoman dengan Kerajaan Aceh menjadi kekhawatiran tersendiri bagi Belanda. Apabila Kesultanan Ottoman ikut campur dalam upaya serangan Belanda terhadap Aceh, perpecahan tersebut akan menjadi hal yang merugikan. Meski tidak secara langsung, kekhawatiran Belanda terbukti dengan respon Ottoman yang ingin berperan sebagai mediator bagi perselisihan antara Aceh dan Belanda. Ketakutan Belanda terhadap campur tangan Ottoman itu berusaha ditepis dengan merealisasikan ambisi Belanda dan mendeklarasikan perang terhadap Aceh pada tahun 1873 (İ. H. Goksoy, 2002). Setelah perjuangan panjang, akhirnya wilayah Aceh berhasil jatuh ke tangan Belanda.
Surat Kabar Belanda: Validasi Hubungan Turki-Indonesia
Belanda terus memperluas kekuasaannya di Indonesia, dengan kejatuhan Kerajaan Aceh, kedudukan Belanda semakin kokoh di negara koloni. Meskipun begitu, hubungan antara Kesultanan Ottoman dan penduduk muslim di Indonesia terus berlanjut. Ketika Perang Dunia I meletus pada tahun 1914, Kesultanan Ottoman bergabung dengan Blok Sentral dengan Jerman dan Austria-Hungaria untuk melawan Blok Sekutu yang terdiri dari Inggris, Prancis dan Uni Soviet. Perang tersebut membuat Sultan Ottoman mengeluarkan fatwa yang menyerukan jihad yang ditanda tangani oleh 29 ulama dengan maksud mendapatkan dukungan dari seluruh umat Islam. Fatwa jihad ini diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dan dikirimkan ke konsulat-konsulat Ottoman yang berada di luar negeri untuk diteruskan kepada penduduk muslim di masing-masing wilayah (İ. H. Goksoy, 2021).
Fatwa jihad yang dikeluarkan Ottoman menyerukan kepada umat muslim untuk melawan orang kafir termasuk memberontak terhadap kolonialisme. Dalam fatwa tersebut juga disebutkan penduduk-penduduk muslim dari berbagai wilayah termasuk muslim Indonesia. Belanda yang bersikap netral pada Perang Dunia I merasa khawatir dengan fatwa jihad tersebut. Belanda berusaha membujuk Ottoman untuk merevisi deklarasi jihad tersebut, namun upaya tersebut gagal karena fatwa tersebut telah sampai di Kedutaan Turki di Batavia dan didistribuskian kepada penduduk muslim. Melalui surat kabar berbahasa Belanda, respon penduduk muslim di Indonesia dalam mendukung Kesultanan Ottoman tercatat dan menjadi bukti. Dalam surat kabar Het Nieuws van Den Dag : Kleine Courant yang diterbitkan di Amsterdam Belanda pada 3 November 1914, tertulis:
“Mohammedanen op Java. Volgens de „Vossische Zeitung”, vinden er op Java demonstraties vóór Turkije en zijn bondgenooten plaats. In de moskeeën worden, volgens dit blad, bidstonden voor de Turksche overwinning gehouden. Aan net departement van koloniën, in Den Haag, deelde men ons bij informatie mede, dat men daar geen enkel bericht heelt ontvangen omtrent een bijzondere houding door de Mohammedaanseho bevolking van Java aangenomen ter gelegenheid van den door Turkije begonnen oorlog. Zoooais bekend meld|de de Vossische Zeilnng”, dat o. a. in de moskeeën vpor da Turken zou worden gebeden.”
Surat kabar tersebut menjelaskan bahwa terjadi demonstrasi di Jawa terkait Turki dan sekutunya yang sedang berperang. Penduduk muslim di Jawa melakukan doa bersama di masjid-masjid untuk kemenangan Turki. Sehari setelahnya, dalam surat kabar lain yaitu Groninger Dagblad yang diterbitkan di Groningen Belanda pada tanggal 4 November 1914 juga menerbitkan kabar dengan narasi serupa. Dukungan yang diberikan oleh penduduk muslim Indonesia bukan hanya sekedar doa, namun juga dilakukan penggalangan dana yang dikirimkan dari Batavia ke Istanbul melalui wesel (İ. H. Goksoy, 2021).
Kesimpulan
Hubungan antara Turki dan Indonesia telah terjalin sejak lama bahkan ketika keduanya masih dalam periode kerajaan. Relasi tersebut membuktikan bahwa jaringan geopolitik dan keagamaan telah dibangun secara global pada masa itu. Kehadiran Ottoman sebagai penguasa muslim yang kuat menjadi pertimbangan bagi negara-negara Barat seperti Portugis dan Belanda untuk melakukan kolonialisasi terhadap penduduk muslim di Indonesia. Sebagai bentuk terima kasih, penduduk muslim di Indonesia memberikan dukungan terhadap Kesultanan Ottoman saat Perang Dunia I. Dukungan tersebut terrekam dalam surat kabar yang diterbitkan di Belanda sebagai validasi keikutsertaan Indonesia dalam mendukung Kesultanan Ottoman.
Referensi
Arsip
I. Oppenheim. (1914). Groninger Dagblad. Groningen. Delpher.nl
Steendrukkerij Roeloffzen en Hübner; NV De Kleine Courant. (1914). Het Nieuws Van Den Dag: Kleine Courant ‘Mohammedanen op Java’. Amsterdam. Delpher.nl
Topkapı Sarayı Arşivi No. E-8009
Jurnal dan Buku
Goksoy, I. H. (1998). Dutch Policy Towards the Indonesian Haj (pp. 187–207). İslam Araştırmaları Dergisi.
Goksoy, İ. H. (2021). Birinci Dünya Savaşi Sirasinda Endonezya Müslümanlarinin. Süleyman Demirel Üniversitesi İlahiyat Fakültesi Dergisi, 96–110.
Mehmet Akif Terzi, A. E. (2017). Osmanli Endonezya Iliskileri. Istanbul: Hitay.
Muhammad Haykal. (2022). Ekspedisi Turki Utsmani dan Gerakan Anti-Kolonialisme. Jurnal El Tarikh, 3(2), 39–54.
Özay, M. (2006). Güneydoğu Asya’nın İslâm Kültür ve Medeniyetine Katkısı Bağlamı nda Açe’de Bir Osmanlı Tekkesi : Dayah Tanoh Abee. M.Ü. İlâhiyat Fakültesi Dergisi, 30, 191–213.
Yurdakul, İ. (2005). XIX. Yüzyilda Osmanli-Açe İlişkileri Osmanli Hilâfetinin Güney Asya’da Dinî-Siyasî Nüfuzu. Türk Kültürü İncelemeleri Dergisi, 1967, 19–48.
Zuboidi, H. (2018). Kepentingan Utsmani Menjalin Hubungan Dengan Kerajaan Aceh Darussalam. Jurnal Peurawi: Media Kajian Komunikasi Islam, 1(2), 113–127.