Ardhian Rizqi Ramadhany
Sosiologi
Sakarya University
Menjadi mahasiswa S1 jurusan sosiologi di Turki memberikan saya perspektif baru dalam memahami berbagai realitas masalah yang terjadi di dunia ini. Menurut C.W Mills permasalahan dunia tidak hanya timbul melalui individu saja, namun di sisi lain hal itu juga dapat disebabkan oleh masalah struktural yang lebih luas (Modisane, 2025). Seperti peran pemangku kebijakan atau pemerintah yang belum maksimal dalam menjawab berbagai permasalahan seperti pengangguran, kurangnya tenaga kerja yang berpengalaman, atau terbatasnya lapangan pekerjaan di suatu negara. Maka dengan ini saya berharap dengan mempelajari sosiologi secara mendalam saya dapat turut berkontribusi dalam membantu merumuskan penyelesaian berbagai permasalahan sosial khususnya di Indonesia, agar kelak berbagai kebijakan yang tercipta dapat menjawab kebutuhan masyarakat. Melalui acara “Mahasiswa Berprestasi PPI Turki 2025” saya ingin turut menyebarkan semangat kebaikan, serta mengajak seluruh diaspora Indonesia yang ada di Turki agar selalu percaya diri untuk selalu memperjuangkan dunia pendidikan mereka sebaik mungkin. Karena saya percaya tidak ada hal yang mustahil untuk kita raih, selama kita selalu berjuang, percaya, dan berdoa.
Pendahuluan
Menurut data BPS, pada tahun 2045 Indonesia akan mengalami puncak kenaikan bonus demografi usia produktif hingga mencapai 60 %. Namun saat ini kita dihadapkan dengan sebuah pertanyaan besar, sudahkah kita mempersiapkan hal ini dengan baik ? Bonus demografi memang dapat menjadi hal positif yang akan menciptakan peluang untuk memajukan laju pertumbuhan ekonomi bagi Indonesia, namun di sisi lain hal ini dapat menjadi tantangan seperti munculnya pengangguran, dan kemiskinan apabila kita belum memiliki SDM yang cukup berkualitas. Potensi ini dapat terhambat bukan karena kesalahan individu semata, namun juga dapat disebabkan oleh kurangnya dukungan dari berbagai lembaga terkait khususnya pemerintah. Sarana pelatihan-pelatihan soft skill guna menunjang masa depan anak muda Indonesia menjadi poin yang dapat kita garis bawahi dan perjuangkan secara bersama. Di sisi lain pengadaan program-program yang memiliki dampak positif juga dapat mengurangi resiko berbagai kenakalan remaja seperti penyalahgunaan narkoba, pergaulan bebas, judi, kecanduan game online, dll. Hal ini dikarenakan mereka dapat mengisi waktu luang mereka dengan berbagai hal yang produktif.
Selama berkuliah kurang lebih 4 tahun di Turki, saya melakukan observasi partisipatif dengan langsung terjun ke lapangan mengamati berbagai sistem kepemerintahan yang ada di Turki. Satu sistem yang cukup menarik bagi saya adalah sistem Gençlik Merkezi. Gençlik Merkezi adalah fasilitas yang dibangun agar pemuda dapat memanfaatkan waktu mereka secara efektif melalui berbagai kegiatan sosial, budaya, pendidikan, serta olahraga. Gençlik Merkezi memiliki tujuan untuk berkontribusi pada perkembangan pribadi pemuda melalui berbagai kegiatan dan program positif yang disediakan melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Turki. Berbagai jenis pelatihan seperti kelas bahasa asing, seni, musik, informasi dan telekomunika (IT) dapat diikuti secara mudah dan juga tanpa harus mengeluarkan biaya sedikit pun. Tidak hanya itu, Gençlik Merkezi juga turut menyediakan berbagai fasilitas berkumpul, rekreasi, olahraga, dan bahkan tidak jarang mereka menyediakan teh gratis (ikram) bagi para pengunjungnya. Semua program dan fasilitas ini sangat inklusif dan terbuka bagi siapapun, tak terkecuali bagi mahasiswa internasional yang sedang berkuliah di Turki. Gençlik Merkezi menjadi lembaga pendidikan non-formal dan ruang kolektif yang berupaya mengarahkan pemuda untuk memiliki berbagai keterampilan, daya saing, serta membantu mereka dalam mempersiapkan masa depan yang lebih baik.
Esai ini bertujuan untuk menganalisis sejauh apa peran Gençlik Merkezi sebagai upaya dalam memberdayakan pemuda di Turki. Esai ini juga bertujuan mengekplorasi potensi model Genclik Merkezi untuk menjadi salah satu referensi bagi Indonesia dalam merumuskan kebijakan yang berkaitan erat dengan upaya peningkatan SDM yang unggul, adaptif, inklusif, dan berdaya saing global. Esai ini berargumen jika model Gençlik Merkezi di Turki mampu diadaptasikan secara baik melalui struktural dan kultural dapat menjadi instrumen strategis dalam pemberdayaan pemuda Indonesia sebagai upaya menghadapi bonus demografi 2045.
Isi/Pembahasan
Gençlik Merkezi sebagai Model Pemberdayaan Kepemudaan Terintegrasi
Sosialisasi adalah proses dimana seseorang mendapatkan transfer pengetahuan atau pengalaman dari orang lain (Ni’mah et al., 2024). Dalam ilmu sosiologi, lingkungan sangat berpengaruh dalam menjalankan proses ini. Instansi sosial paling kecil yaitu keluarga memainkan peran krusial dalam mentransfer pengetahuan kepada anak-anak. Beranjak ke lingkungan lain seperti tetangga, sekolah, atau lingkaran pertemanan yang juga dapat menciptakan dampak dalam proses sosialisasi. Sosialisasi merupakan peran penting bagi pemberdayaan pemuda, karena di dalam proses ini mereka menginternalisasi nilai, karakter, serta berbagai macam keterampilan yang sesuai dengan minat mereka. Model partisipatif dalam proses sosialisasi dengan mengadakan program seperti relawan, kelas kursus, atau kegiatan olahraga yang melibatkan pemuda sebagai subjek aktif, dan bukan hanya objek pasif dapat menjadi model yang ideal dalam melaksanakan sosialisasi.
Gençlik Merkezi dapat menjadi contoh nyata sebagai model pemberdayaan pemuda yang menerapkan konsep partisipatif dan terintegrasi dengan sangat baik di Turki. Gençlik Merkezi berfungsi sebagai ruang publik di mana pemuda dilibatkan secara aktif dalam berbagai program mulai dari
pelatihan keterampilan digital, kursus bahasa dan seni, hingga proyek sukarelawan sosial yang dirancang untuk membangun karakter dan meningkatkan rasa kepedulian terhadap sesama. Bentuk integrasi dari sistem ini dapat kita saksikan melalui penyatuan fasilitas pendidikan non-formal, bimbingan konseling, dan ruang kolaborasi kreatif dalam satu ekosistem yang langsung berkoordinasi dengan Kementrian Pemuda dan Olahraga Turki.
Dengan demikian, Gençlik Merkezi dapat kita lihat mampu merepresentasikan menjadi model yang ideal dalam memberdayakan pemuda, serta memiliki sistem yang terintegrasi dengan sangat baik, sehingga berbagai program yang ada dapat dilaksanakan secara baik dan tanpa kendala. Di sisi lain sebuah studi juga menunjukkan bahwa Gençlik Merkezi memberikan kontribusi signifikan terhadap perkembangan pemuda secara holistik, mencakup aspek edukasi, sosial, psikologis, hingga fisiologis. Kehadiran Gençlik Merkezi juga efektif dalam membantu pemuda mengelola stres sekaligus memberikan dampak positif terhadap pencapaian akademik mereka (Yılmaz & Orhan, 2020).
Selain menjadi alat sosialisasi efektif yang mampu menghadirkan berbagai program yang sangat menarik, Gençlik Merkezi juga dapat meningkatkan rasa solidaritas sosial dan partisipasi masyarakat. Hal ini dapat dilihat melalui berbagai gerakan relawan yang aktif dilaksanakan setiap tahunnya, dan akan menjangkau berbagai daerah di Turki. Menurut data saat ini tercatat ada sekitar 501.195 jumlah relawan dan 43.394 program relawan yang telah terlaksana di Turki (T.C. Gençlik ve Spor Bakanlığı, 2025). Menariknya, kegiatan relawan seperti ini mendapatkan pendanaan dan dukungan langsung dari pemerintah. Hal serupa berbeda dengan Indonesia yang masih sangat mengandalkan NGO/Organisasi swasta dalam mengadakan berbagai kegiatan relawan sosial, dan bahkan cukup disayangkan tidak jarang para relawan harus mengeluarkan sedikit dana untuk bisa melakukan kegiatan relawan tersebut (Leony, 2025). Dengan dukungan secara finansial dan moral oleh pemerintah setempat, kegiatan relawan seperti yang ada di Turki dapat menjadi program yang masif dan berkelanjutan. Penulis juga berargumen dukungan yang serupa kepada program seperti relawan layak untuk mendapatkan pertimbangan bagi kementerian terkait di Indonesia, seperti Kementerian Kepemudaan dan Olahraga.
Menjawab Tantangan Struktural–Kultural: (Re)formulasi Gençlik Merkezi dalam Pemberdayaan Kepemudaan Indonesia
Meskipun model Gençlik Merkezi mampu menjadi salah satu contoh fasilitas sosial yang cukup terlihat ideal, pengimplementasian secara praktikal di Indonesia mungkin akan menghadapi tantangan seperti perbedaan sistem struktural antara pemerintah Turki dan Indonesia. Berjalannya sistem Gençlik Merkezi di Turki sangat berpengaruh kepada sistem pemerintah Turki yang sentralistik di bawah Gençlik ve Spor Bakanlığı (Kementerian Pemuda dan Olahraga), yang mana dengan sistem ini pemerintah dapat menjamin standarisasi serta pendistribusian sumber daya yang merata ke berbagai daerah hingga pelosok Turki. Sedangkan ketika kita mengkomparasikan dengan sistem pemeritah di Indonesia, kita dapat melihat bahwa sistem kita cenderung sangat bergantung dengan otonomi daerah, apalagi sejak dimulainya masa reformasi pada tahun 1998 (Suparto, 2017). Meskipun konsep otonomi daerah diadakan untuk mempercepat dan meratakan pembangunan, dalam praktiknya kita masih dapat menemukan beberapa kendala seperti ketergantungan fiskal dari pemerintah pusat, ketidaksiapan pemerintah daerah dalam perencanaan pembangunan, atau lemahnya kapasitas birokrasi yang ada di sebuah daerah (Muhammad Rizqi Afandi et al., 2025). Hal ini dapat menyebabkan ketimpangan sosial dalam upaya mengakses fasilitas yang akan dibangun nantinya. Oleh karena itu, penulis merekomendasikan diadakannya evaluasi terkait sistem dalam mengatur otonomi daerah seperti mewajibkan adanya standar nasional yang mengikat, namun tetap fleksibel secara operasional menyesuaikan dan beradaptasi dengan kondisi lokal yang beragam.
Selain tantangan secara struktural adaptasi Gençlik Merkezi juga dapat menghadapi tantangan kultural, disebabkan oleh heterogenitas masyarakat Indonesia yang berbanding jauh dengan kondisi Turki yang cenderung lebih homogen. Terlebih lagi Indonesia pernah memiliki beberapa riwayat konflik antar kelompok yang cukup menyebabkan perpecahan di antara masyarakat. Ketika fasilitas ini tidak dapat menciptakan rasa inklusifitas yang dapat dirasakan oleh semua golongan, maka dikhawatirkan hal ini juga akan memicu konflik antar golongan yang dapat mengganggu kestabilitasan sosial dan kerukunan masyarakat Indonesia. Maka, saya menyarankan perlu adanya perancangan sistem yang dapat menjamin bahwa setiap program dan fasilitas yang akan dibangun mampu untuk menjangkau semua golongan dan memberikan interaksi yang positif antar pemuda, sehingga fasilitas ini mampu membangun kohesi sosial yang kokoh dan mempererat hubungan baik antar masyarakat.
Menjawab berbagai kompleksifitas tantangan tersebut, saya mengusulkan pembentukan “Rumah Muda Indonesia” (RMI) yang dapat menggunakan pendekatan pemberdayaan berbasis komunitas (Community Based Empowerment). Fasilitas ini nanti akan berfokus kepada memberikan akses pendidikan informal dengan merancang program-program pengembangan berbagai soft skills yang dibutuhkan oleh masyarakat. Di sisi lain fasilitas ini nantinya juga akan menjadi ruang publik yang inklusif bagi semua golongan, dimana semua orang bisa mengunjungi tempat ini untuk belajar mandiri, melakukan perkumpulan, atau bahkan menggunakan fasilitas olahraga yang tersedia. Dengan implementasi sistem dan model yang sesuai, maka RMI dapat menjadi solusi dalam menjawab berbagai tantangan struktural maupun kultural sebagaimana penjelasan di atas.
Di dalam praktiknya kita juga bisa berkolaborasi dengan organisasi Karang Taruna yang ada di setiap daerah di Indonesia, di sisi lain hal ini juga dapat menjadi solusi untuk turut mengatasi kendala yang dirasakan oleh teman-teman Karang Taruna, seperti kurangya pendanaan untuk membuat sebuah kegiatan, atau minimnya fasilitas yang dapat digunakan untuk melaksanakan berbagai kegiatan itu sendiri. Dengan adanya kolaborasi yang aktif ini, masyarakat juga memiliki kesempatan secara langsung untuk dilibatkan dalam berbagai perencaan, serta pelaksanaan program yang ada. Maka hal ini juga dapat meningkatkan rasa kepemilikan (sense of ownership) terhadap berbagai program sehingga program ini akan berjalan secara maksimal dan berkelanjutan.
Penutup
Secara garis besar, analisis ini menyimpulkan bahwa permasalahan yang terjadi di Indonesia seperti ketertinggalan daya saing pemuda bukan hanya disebabkan oleh masalah individu saja, namun juga dapat disebabkan akibat minimnya perhatian terhadap kesediaan fasilitas yang dapat menjadi inkubator berbagai potensi anak muda Indonesia. Studi kasus melalui Gençlik Merkezi di Turki mampu memberikan gambaran secara empiris bagaimana instrumen pemerintah mampu hadir dalam menyediakan institusi sosial dan pendidikan informal yang menjadi sarana peningkatan kapasitas diri (human capital) dan modal sosial (social capital) bagi para pemuda yang ada. Bentuk adaptasi yang diambil dari Gençlik Merkezi dengan membuat “Rumah Muda Indonesia” sebagai fasilitas pengembangan diri yang terpusat, serta menyediakan berbagai program pelatihan soft skills yang dikemas dengan inklusif dan menyesuaikan kondisi sosial dan kultural dari berbagai wilayah di Indonesia, dapat menjadi langkah yang strategis dalam mengupayakan optimalisasi menghadapi bonus demografi 2045 nanti.
Sebagai rekomendasi tambahan, saya menyarankan pemerintah Indonesia melalui Kemenpora (Kementerian Kepemudaan dan Olahraga) untuk bisa melakukan studi banding dan mencoba untuk mengeksplorasi dan mengadopsi sistem Gençlik Merkezi dengan melibatkan diaspora pelajar Indonesia yang ada di Turki, sebagai kolaborator yang mampu membuka jalan serta berbagai peluang dalam merealisasikan kerja sama ini. Pada akhirnya ketika negara mampu hadir dan memberikan ruang bertumbuh dalam menggali potensi bagi para pemuda, Indonesia Emas 2045 bukan hanya menjadi kalimat yang utopis, melainkan akan menjadi kenyataan yang perlahan mulai menemukan jalannya.
Daftar Pustaka
Badan Pusat Statistik. (2023). Proyeksi penduduk Indonesia 2020-2050 hasil Sensus Penduduk 2020. https://www.bps.go.id/id/publication/2023/05/16/fad83131cd3bb9be3bb2a657/proyeksi-penduduk-indonesia-2020-2050-hasil-sensus-penduduk-2020.html
Leony. (2025). Civil society organizations in Indonesia declines drastically due to limited funding. Universitas Gadjah Mada. https://ugm.ac.id/en/news/civil-society-organizations-in-indonesia-declines-drastically-due-to-limited-funding
Modisane, M. (2025). Perspective of sociology: Historical context of South African higher education in the 1960’s, public issues and personal troubles. SSRN. http://dx.doi.org/10.2139/ssrn.5582033
Muhammad Rizqi Afandi, Ardiansyah, & Kamdani. (2025). Otonomi daerah sebuah kajian literature review. Journal of Literature Review, 1(1), 211-217. https://doi.org/10.63822/e50m4s79
Ni’mah, H., Hadi, A., & Shafwan, M. (2024). Sosialisasi dalam keluarga terhadap pembentukan akhlak anak. Jurnal Manajemen Pendidikan dan Ilmu Sosial, 5(3), 431-438. https://doi.org/10.38035/jmpis.v5i3.1976
Suparto. (2017). Otonomi daerah di Indonesia: Pengertian, konsep, tujuan, prinsip dan urgensinya. Dalam Prosiding Seminar Strategi Nasional Pembangunan Daerah Kepulauan (hlm. 1-24). FISIPOL Universitas Maritim Raja Ali Haji.
T.C. Gençlik ve Spor Bakanlığı. (n.d.). Gençlik merkezleri. Gsb.biz. https://biz.gsb.gov.tr/Genciz/GenclikMerkezleri/
T.C. Gençlik ve Spor Bakanlığı. (2025). Gönüllüyüz BİZ. https://gonulluyuzbiz.gov.tr/Yılmaz, Ö., & Orhan, R. (2020). Evaluation of the attitudes of users towards youth centers in Turkey. Journal of Education and Training Studies, 8(4).