PRESS RELEASE DIKSI PRO 2026

ANKARA/ONLINE, 24 Mei 2026. Pusat Studi PPI Turki (PUSPITUR)  bekerja sama dengan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Pancasila menyelenggarakan Diskusi Ilmiah Pro (DIKSI PRO)  bertajuk “Strengthening Financial Literacy and Risk Management for a Profitable and Safe Investment Indonesians Abroad in Turkiye”. Kegiatan ini menghadirkan tiga narasumber kompeten yang membahas berbagai aspek investasi yang relevan bagi mahasiswa Indonesia di luar negeri, mulai dari manajemen risiko, instrumen investasi, hingga strategi memulai investasi emas. Narasumber tersebut Adalah Dr. Endang Etty Merawati, S.E., M.M., Ak., CA. ACPA., QCRQ, akademisi dari FEB Universitas Pancasila. Arien Gerald, SE., MM, Head of Relationship BCA / Kepala Bisnis Cabang BCA. Wisnu Pariama,  .

Sesi pertama dari diskusi ini dibuka oleh Dr. Endang Etty Merawati yang menekankan bahwa investasi merupakan kebutuhan mendesak yang justru paling efektif dimulai sejak masa perkuliahan. Menurutnya, mahasiswa yang berada di luar negeri menghadapi tantangan finansial yang unik: biaya hidup dan pendidikan yang tinggi, fluktuasi nilai tukar mata uang, serta ketidakstabilan kondisi ekonomi global yang dipicu oleh dinamika geopolitik. Ia memaparkan enam manfaat utama investasi bagi mahasiswa, yakni kemampuan menghadapi biaya hidup yang terus meningkat, melatih disiplin pengelolaan keuangan, melindungi nilai kekayaan dari inflasi, mempersiapkan karier dan masa depan pascalulus, memanfaatkan efek compounding sejak dini, serta membangun kemandirian finansial yang tidak bergantung sepenuhnya pada orang tua. Sebelum memulai investasi, Dr. Endang menegaskan pentingnya sembilan faktor yang harus dipertimbangkan: perencanaan keuangan yang matang, kejelasan tujuan investasi, pemahaman risiko, penyesuaian dengan pendapatan dan anggaran, kewaspadaan terhadap inflasi dan nilai tukar, pengetahuan finansial yang memadai, ketepatan dalam memilih instrumen investasi, pertimbangan kondisi ekonomi negara tempat studi, serta kedisiplinan dan konsistensi dalam berinvestasi.

Untuk pemula, ia merekomendasikan instrumen yang relatif aman dan mudah dipahami seperti reksa dana pasar uang, deposito, dan obligasi sebagai langkah awal yang bijak.

Sesi kedua dilanjut oleh Arien Gerald yang memiliki latar belakang sebagai Kepala Bisnis Cabang BCA. Mengupas secara mendalam dua instrumen investasi yang dinilai paling sesuai untuk kalangan mahasiswa: obligasi dan reksa dana. Ia menjelaskan bahwa tujuan utama berinvestasi mencakup tiga hal: melawan inflasi agar nilai uang tidak tergerus, menambah penghasilan melalui keuntungan investasi, dan mencapai tujuan finansial jangka panjang seperti biaya pendidikan lanjutan, modal usaha, dana pernikahan, atau persiapan masa pensiun.

Obligasi, yang merupakan surat utang yang diterbitkan oleh pemerintah maupun perusahaan, menawarkan tiga keunggulan utama: pendapatan rutin berupa bunga atau kupon secara berkala, tingkat risiko yang lebih rendah dibanding saham, serta kemudahan untuk diperjualbelikan di pasar sekunder sebelum jatuh tempo. Meski demikian, investor perlu mewaspadai risiko fluktuasi harga, kemungkinan gagal bayar dari penerbit, serta risiko suku bunga yang dapat memengaruhi nilai obligasi.

Reksa dana hadir sebagai alternatif investasi yang dikelola secara profesional oleh manajer investasi berpengalaman. Keunggulannya terletak pada kemudahan pengelolaan, modal awal yang relatif kecil, serta diversifikasi aset yang secara otomatis menyebarkan risiko ke berbagai instrumen. Adapun risikonya meliputi fluktuasi nilai investasi yang bergantung pada kondisi pasar dan ketidakpastian imbal hasil.

Sesi terakhir oleh Wisnu Pariama yang memiliki latar belakang sebagai Relationship Manager B2B Pegadaian. Membahas investasi emas sebagai instrumen yang sangat relevan bagi mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh studi di luar negeri, terutama di tengah kondisi geopolitik global yang tidak menentu seperti saat ini. Emas dikenal sebagai aset aman yang terbukti stabil dalam jangka panjang, sekaligus berfungsi sebagai pelindung nilai terhadap inflasi.

Wisnu memaparkan lima alasan utama mengapa emas cocok bagi mahasiswa: nilainya yang relatif stabil dibanding instrumen lain, kemampuannya melawan inflasi, tingkat risiko yang lebih rendah dibanding saham atau kripto, kemudahan memulai dari nominal yang terjangkau melalui tabungan emas, serta sifatnya yang mendorong kedisiplinan menabung secara rutin.

Dari sisi keuntungan, emas memiliki likuiditas tinggi sehingga mudah dicairkan saat dibutuhkan, nilai yang cenderung meningkat dalam jangka panjang, dan ketahanan di tengah krisis ekonomi maupun konflik global. Emas juga dapat difungsikan sebagai dana darurat yang sewaktu-waktu dapat diakses. Investasi emas dapat dimulai dalam berbagai bentuk, mulai dari emas batangan, tabungan emas digital, hingga program tabungan emas di Pegadaian yang dapat dimulai dari nominal kecil dan tercatat secara digital.

Untuk memulai, Wisnu merekomendasikan lima langkah praktis: menetapkan tujuan investasi secara jelas, memulai dari nominal kecil, membeli hanya di tempat terpercaya seperti Pegadaian, bank, atau toko emas resmi, berinvestasi secara konsisten dan rutin, serta memantau pergerakan harga emas untuk menentukan waktu beli dan jual yang tepat.