PRESS RELEASE DIKSI VOL 2 2026

ANKARA/ONLINE, 13 Juni 2026. Pusat Studi PPI Turki (PUSPITUR) menyelenggarakan Diskusi Ilmiah (DIKSI VOL II) bertajuk “Fenomena El Nino Godzilla: Mengapa Cuaca Semakin Sulit Diprediksi?” menghadirkan Prof. Dr. Erma Yulihastin, Ketua Kelompok Riset Interaksi Atmosfer-Laut dan Variabilitas Iklim, Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, sebagai pemantik tunggal.

Kegiatan ini dihadiri oleh puluhan peserta dari kalangan mahasiswa Indonesia di Turki, peneliti, dan pemerhati isu iklim, dan menjadi salah satu forum ilmiah paling substantif yang diselenggarakan PUSPITUR, mengingat topik yang diangkat memiliki urgensi langsung bagi Indonesia dan kawasan Asia Tenggara.

Diskusi ini dimulai dengan mengenalkan darimana asal sebutan Godzilla muncul. Dalam paparannya, Prof. Dr. Erma Yulihastin menjelaskan bahwa istilah “Godzilla” El Nino merupakan sebutan tidak resmi yang digunakan para ilmuwan dan media untuk menyebut Super El Nino yang memiliki kekuatan jauh di atas rata-rata, yakni ketika anomali suhu permukaan laut di Samudra Pasifik tropis melampaui angka +2 derajat Celsius.

Berdasarkan data observasi terbaru BRIN per Juni 2026, anomali suhu di kawasan NINO2 telah mencapai +2,56 derajat Celsius, sementara NINO3.4 tercatat di angka +0,81 derajat Celsius. Super El Nino diprediksi mulai terbentuk secara penuh mulai Juli 2026, dengan fase terkuatnya diperkirakan terjadi pada periode September-November (SON) 2026. Kekuatan fenomena ini bahkan diprediksi berpotensi melampaui tiga Super El Nino terbesar sebelumnya, yaitu pada tahun 1982-1983, 1997-1998, dan 2015-2016.

Prof. Erma juga menyoroti bahwa El Nino 2026 tidak berdiri sendiri. Fenomena ini diperparah oleh kehadiran Indian Ocean Dipole (IOD) positif yang diprediksi aktif mulai Juli 2026, serta latar belakang pemanasan global yang terus meningkat. Kombinasi tiga faktor inilah yang menjadikan El Nino 2026 berpotensi jauh lebih destruktif dibanding siklus-siklus sebelumnya.

Kemudian riset inipun diperkuat dengan data dari sistem Decision Support System KAMAJAYA yang dikembangkan BRIN melalui pendekatan dynamic downscaling dengan akurasi 88-99 persen, Prof. Erma memaparkan proyeksi dampak El Nino 2026 secara spesifik terhadap Indonesia. Hasilnya menunjukkan gambaran yang mengkhawatirkan.

Indonesia diprediksi akan mengalami kombinasi kondisi yang lebih panas (hotter) sekaligus lebih kering (drier) selama periode Juni hingga November 2026. Pendinginan suhu permukaan laut di sebagian wilayah Indonesia menghambat pembentukan awan dan secara signifikan mengurangi potensi curah hujan, sehingga meningkatkan risiko kekeringan dan paceklik.

Periode paling kritis diperkirakan terjadi pada Juli, Agustus, September, Oktober, dan November 2026. Berbeda dari El Nino 2015 yang memperpanjang durasi musim kemarau hingga sekitar dua tahun, El Nino 2026 diprediksi tidak memperpanjang durasi musim kemarau secara signifikan, namun membuat kemarau jauh lebih kering dan intens dibanding kondisi normal.

Dari sisi wilayah terdampak, model KAMAJAYA mengidentifikasi bahwa wilayah yang berisiko paling tinggi mengalami kekeringan ekstrem adalah Pantai Utara Jawa (Pantura), Bali, Lombok, NTB, dan NTT. Proyeksi dampak kekeringan pertanian di 2026 juga terbukti lebih besar dibandingkan El Nino 2023, terutama untuk wilayah Jawa Timur. Jika kekeringan meluas ke Pulau Jawa, urutan provinsi paling rentan adalah DIY, Jawa Barat, dan Banten. Sebaliknya, wilayah Sumatera bagian utara dan barat, serta sebagian Jawa Barat bagian tengah dan selatan, diprediksi relatif tetap basah selama musim kemarau.

Model KAMAJAYA juga mengidentifikasi fenomena Urban Heat Island (UHI) yang menguat di kawasan perkotaan besar, terutama Jakarta-Tangerang dan Surabaya. Indeks Heat-Stress di daratan Indonesia diprediksi berada pada level “Alert” dengan kisaran suhu 27-29 derajat Celsius, sementara perairan Laut Jawa dan utara Indonesia diperkirakan mengalami heat-stress pada kategori ekstrem.

Selain data dari sistem KAMAJAYA di atas, riset yang dilakukan oleh BRIN juga sejalan dengan prediksi lembaga iklim internasional. World Meteorological Organization (WMO) melalui Southeast Asian Climate Outlook Forum yang dirilis pada 11 Juni 2026 mengkonfirmasi bahwa Indonesia akan mengalami kekeringan selama periode Juni-Juli-Agustus (JJA) 2026. Sementara itu, model NOAA CPC per Mei 2026 menunjukkan probabilitas 82 persen kemunculan El Nino antara Mei-Juli 2026, dengan probabilitas 96 persen untuk bertahan hingga Februari 2027.

Penting untuk dicatat bahwa model global seperti NOAA dan ECMWF memiliki keterbatasan dalam memetakan dampak El Nino secara akurat di tingkat regional Indonesia karena kompleksitas geografisnya sebagai benua maritim ekuator. Oleh karena itu, BRIN mengembangkan pendekatan dynamic downscaling melalui KAMAJAYA yang mampu menghasilkan prediksi dengan resolusi spasial 27 km dengan akurasi tinggi, jauh lebih detail dibanding model global yang beroperasi pada resolusi 111 km.

Apa yang harus kita lakukan?

Di penghujung diskusi, Prof. Erma menegaskan bahwa seluruh pemaparan ini bertujuan mendorong kesiapsiagaan dan antisipasi dini, bukan menimbulkan kepanikan di masyarakat. Ia menekankan pentingnya pemerintah, sektor pertanian, dan masyarakat untuk mulai mengambil langkah mitigasi sejak dini, terutama di wilayah-wilayah yang masuk kategori rentan tinggi.

Beberapa poin kritis yang disoroti untuk diwaspadai antara lain:

  • Ancaman kekeringan pertanian di lumbung pangan Pantura Jawa, dengan Grobogan, Lamongan, dan Demak sebagai daerah paling berisiko tinggi mengalami kehilangan produksi
  • Meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan dan Sumatera seiring dengan kondisi kemarau yang semakin kering
  • Potensi krisis air bersih dan tekanan terhadap produksi pangan nasional
  • Perlunya optimalisasi sistem peringatan dini berbasis data KAMAJAYA hingga ke tingkat kecamatan agar informasi dapat diakses oleh komunitas yang paling rentan