Iran-Israel Memanas : Saling Respon Iran -Israel

oleh : Muhammad Aqilsyah

Pusat Studi PPI Turki melalui Klaster rumpun Ilmu Sosial, Politik dan Humaniora melaksanakan diskusi ilmiah yang mengundang seluruh diaspora pelajar mendiskusikan tema “Iran-Israel Memanas : Saling Respon Iran -Israel”. Diskusi ini menghadirkan pemantik yang mewakili perspektif ilmu hubungan internasional (Arya Alifa Mukti/Sakarya), ilmu ekonomi (Muh. Andi Iqbal/Bursa), dan ilmu politik & administrasi negara(Sevastya Fariza/Ankara). 

Akar Masalah

Iran dibawah Shah Palevi di Tahun 1950

Sebelum menjadi Iran sekarang, Iran dipimpin Reza Shah Palevi Raja kedua dinasti Syah. Di masa ini, Iran menjadi negara kedua setelah Turki yang mengakui Israel sebagai Negara setelah adanya Deklarasi Balfour. Iran di masa Reza Shah Pahlevi memiliki sikap politik yang condong ke Barat. Pada saat itu Israel dipimpin David Ben Gurion yang merupakan PM pertama Israel. Hubungan ini diperkuat dengan ditunjuknya Reza Safinia sebagai Representatif Iran untuk Israel (1950).

David Ben Gurion memiliki sebuah ideologi yang dikenal dengan “Periphery Doctrine” 

Kenapa Iran menormalisasi hubungan dengan Israel??

  1. Periphery Doctrine

Membentuk kerjasama negara-negara/komunitas/kelompok non-Arab (Turki,Kurdi,Barbar, Ethiopia,Kristen dan Iran) untuk menghentikan dominasi negara-negara Arab di Timur Tengah. 

  1. Tawaran Israel kepada Iran :  Jalur Pipa Eilat-Askelon

Jalur pipa ini menggabungkan  laut merah dengan laut mediterania. Tawaran ini memudahkan Iran untuk menjual minyak dan Ptrol mereka. Melalui kesepakatan yang disetujui Iran ini, Iran berhasil memasok minyak dan petrol mereka ke negara-negara Eropa dan Israel itu sendiri. Penjualan Iran pun sangat berhasil dan ekonomi Iran menjadi sangat baik. Ketika Israel menang telak dalam Perang 6 hari melawan negara-negara Arab, salah satunya Mesir, Iran berperan menjadi pemasok minyak untuk Israel. Dari sini tergambarkan bagaimana hubungan kedua negara tersebut.

  1. Mimpi Reza Shah Pahlevi membawa Iran menjadi Penguasa Baghdad

Israel mensupport Iran yang memberi dukungan terhadap orang-orang Kurdi melakukan gerakan pemberontakan di Irak bagian utara untuk mendapat dominasi di Teluk Persia. Mendapatkan dominasi di wilayah ini menjadi penting dikarenakan di kawasan ini terdapat Selat Hormuz yang merupakan lalu lintas laut terpadat di dunia.

  1. Peran Israel dalam Transformasi Iran Modern

Banyaknya peran Israel ini mendorong Iran untuk memberi timbal balik. Salah satunya adalah membuka sekolah bagi yahudi. Hubungan kedua negara di masa tersebut sangat baik dan erat. Karena keduanya benar-benar menjadikan hubungan ini saling menguntungkan (sebelum Revolusi Iran 1979)

Revolusi Iran 1979 (Ayatullah Khomeini menduduki tahta kekuasaan)

Gejolak Khomeini sudah dimulai jauh sebelum revolusi terjadi. Ayatullah Khomeini melihat ketidakselarasan nilai-nilai keislaman yang ditunjukkan Reza Shah Pahlevi terutama dengan adanya normalisasi hubungan dengan Israel. Revolusi itu sendiri sudah diusahakan Ayatullah Khomeini sejak 1950-an.

Bagaimana Hubungan Iran-Israel setelah Revolusi Iran?

Setelah revolusi terlaksana, Iran memutus seluruh hubungan mereka dengan Israel. Amerika Serikat disebut sebagai The Big Evil dan Israel sebagai The Small Evil. 

Di Iran sendiri, negara-negara yang terlibat langsung dalam penjajahan terhadap Palestina (AS, Inggris, Israel), selalu mendapat kutukan di mimbar-mimbar setiap masjid di Iran. Iran juga tidak pernah menyebut nama Israel dalam meja-meja Internasional. Iran secara ekstrem tidak mengakui eksistensi Israel. 

Axis War antara Iran dan Israel (1985-Sekarang)

Antara Iran dan Israel tidak pernah benar-benar berperang secara terbuka. Antara Iran dan Israel masing-masing membentuk proxy untuk melakukan konfrontasi. 

Hal menarik dari Iran sendiri adalah bagaimana mereka membentuk Axis di wilayah-wilayah yang letaknya seperti mengepung Israel. Axis tersebut antara lain terletak di Irak, Suriah, Lebanon (Hizbullah), PLO, Yaman (Houthi) dan Hamas sendiri termasuk Axis Iran untuk melakukan konfrontasi dengan Israel. Houthi sendiri memiliki peran sangat penting untuk memblokade masuknya kapal-kapal berbendera Israel, AS atau yang berafiliasi dengan mereka. 

Serangan Iran terhadap Israel

Sebetulnya, Iran tidak serta-merta menyerang Israel tanpa ada hal yang melatarbelakangi aksi tersebut. Diketahui, pada tanggal 1 April 2024, Israel menyerang kedutaan Iran di Damaskus. Serangan ini menewaskan Jendral Muhammad Zahedi yang merupakan mantan kepala IRGC (Islamic Revolutionary Guard Corps). Tentu saja perbuatan Israel ini melanggar hukum internasional karena menyerang wilayah padat sipil dan bukan merupakan military-based. 

Tentu saja, ini mendorong Iran untuk melakukan tindakan terhadap Israel. Dengan serangan yang dilancarkan Israel, secara otomatis Iran memiliki hak membela diri dan hak itu sah berdasarkan hukum internasional. Iran melancarkan serangan balasannya pada tanggal 13 April 2024. Kendati demikian, Israel merengek kepada PBB untuk menindak Iran. Amerika Serikat sendiri memilih untuk tidak membantu Israel jika Israel kembali melakukan mis-kalkulasi.

Posisi Jordan

Jordan secara mengejutkan berada di pihak Israel di dalam situasi ini. Alasannya adalah dikarenakan Jordan sedang menunjukkan nilai dan daya tawar mereka kepada AS. Tindakan ini adalah upaya Jordan mempertahankan korporasi mereka dengan AS.

Eskalasi konflik dan implikasi terjadinya Perang Dunia ke-3

Shofwan Al-Banna, pakar HI dari Universitas Indonesia mengatakan saling serang antara Iran dan Israel tidak akan mendorong terjadinya Perang Dunia III karena 3 alasan; 

  1. Intensi. Tidak ada intensi berlebihan dari kedua belah pihak
  2. Kapasitas. Israel memahami kapasitas mereka tidak cukup untuk memberi reaksi dari kawasan jika tindakan mereka berikutnya memicu reaksi kawasan
  3. Miskalkulasi Israel. Israel tidak mendapat dukungan dari Aliansi-aliansi mereka dalam situasi ini.

Dampak Ekonomi

Iran memiliki tentara cadangan lebih banyak dibandingkan Iran. Israel sendiri termasuk negara dengan pasukan cadangan terbanyak di dunia yang disebabkan masa wajib militer yang ditetapkan.

Secara umum, GDP Iran lebih rendah daripada Israel yang juga mendapat sokongan AS. 

Tetapi, secara hitung-hitungan ekonomi, Iran unggul dalam inensitas konflik Iran-Israel. Israel setidaknya menggelontorkan 1 juta dolar untuk bertahan terhadap serangan Iran. Sedangkan untuk serangan ini, Iran hanya menggelontorkan 5% dari pengeluaran militer mereka. 

Indonesia mendapat dampak langsung secara ekonomi. Kenapa? wilayah Timur Tengah merupakan pemasok minyak bumi terbesar. Konflik mempengaruhi harga komoditas. Kenaikan harga komoditas mendorong inflasi. Hal ini juga terjadi sebagaimana perang Rusia-Ukraina

Para investor juga mengalihkan kekayaan mereka dari dollar menjadi emas..

Situasi ini mengganggu kegiatan ekspor Indonesia dan Indonesia mengalami kelambatan pertumbuhan ekonomi akibat situasi tersebut.

Pengaruh Administrasi Negara

Administrasi menjadi modal utama setiap negara untuk menentukan kebijakan nasional. 

Secara administrasi negara, yang dilakukan Iran adalah sah dan tidak melanggar administrasi negara mereka. Karena ada 2 syarat minimal di dalam konstitusi Iran. Tindakan ini harus sah secara legitimasi dan legalitas. Tindakan ini secara ideologis sah karena merupakan tindakan membela diri dan tindakan ini didukung oleh masyarakat. Tidak ada unsur pelanggaran Iran dari sudut pandang Administrasi negara.

Partisipasi politik.

Iran menggunakan kekuatan politiknya, selain sebagai tindakan membela diri, juga untuk memperkuat ‘posisi” kekuatan geopolitik mereka di wilayah tersebut.

Secara administrasi, tidak ada dampaknya terhadap administrasi negara yang dimiliki Indonesia.

Apa yang terjadi berikutnya?

Eskalasi konflik, bergantung kepada manajemen konflik dari negara-negara terlibat (Iran – Israel & AS)

Perang Dunia 3 tidak akan terjadi, karena setiap negara dalam situasi “berperang” dengan ketidakadilan sosial di negara masing-masing. 

Redaksi : Muhammad Aqilsyah