Türkiye Scholarships: Sejak Kekaisaran Ottoman Hingga Masa Kini

Aulia Fatimatuz Zahra – History, Süleyman Demirel University

Türkiye adalah salah satu negara yang sangat aktif memberikan beasiswa bagi pelajar asing setiap tahunnya melalui program Türkiye Bursları atau Türkiye Scholarships. Ratusan ribu pendaftar dari berbagai negara di dunia mengikuti seleksi program beasiswa tersebut untuk berlomba mendapatkan kesempatan belajar di Türkiye, termasuk para pelajar dari Indonesia. Apabila dilihat melalui kacamata sejarah, ‘beasiswa’ dari pemerintah Türkiye bukan hanya ada di masa kini loh! Cikal bakal munculnya beasiswa dari pemerintah Türkiye sudah ada sejak masa Kekaisaran Ottoman. Banyak orang pasti tidak asing lagi di telinga jika mendengar bahwa sejak dahulu anak-anak Muslim Nusantara (Indonesia) sudah pergi menuntut ilmu hingga ke luar negeri seperti ke Arab, Mesir, Yaman dan wilayah Timur Tengah lainnya. Tapi, pernahkah anda mengetahui bahwa anak-anak Muslim dari Jawa juga sudah mencari ilmu hingga ke Türkiye dan mendapat beasiswa dari Kekaisaran Ottoman?

Hubungan Ottoman dengan Nusantara

Adalah sebuah fakta bahwa kedekatan antara Kekaisaran Ottoman dengan wilayah Nusantara bukan hanya terjalin melalui hubungan politik dan perdagangan, tetapi juga melalui jalur pendidikan. Interaksi pertama antara Kekaisaran Ottoman dengan wilayah Nusantara tercatat ketika Kesultanan Aceh Darussalam meminta pertolongan kepada Ottoman untuk membantu melawan Portugis pada abad ke-16. Kekaisaran Ottoman pada saat itu merupakan penguasa Islam terbesar dengan menguasai wilayah Anatolia, sebagian Eropa, sebagian Afrika hingga wilayah Arab termasuk Makkah dan Madinah. Tidak heran jika Kekaisaran Ottoman sangat disegani oleh para penguasa dari berbagai wilayah termasuk para penguasa Eropa. Relasi antara Ottoman dan Aceh terabadikan dalam arsip-arsip Ottoman, Hikayat Aceh, Hikayat Meukota Alam, dan Bustanu’s Selatin (karya Nureddin er-Raniri yang ditulis pada tahun 1638 di Aceh). Permohonan bantuan yang diminta oleh Kesultanan Aceh tidak hanya dikirimkan melalui surat, beberapa kali perwakilan Kesultanan Aceh juga mengunjungi Istanbul untuk bertemu dengan Sultan Ottoman secara langsung. Hubungan antara Ottoman dan Aceh terus terjalin hingga abad-abad selanjutnya.

Interaksi antara Kekaisaran Ottoman dan Muslim Nusantara lebih lanjut terjalin melalui jemaah haji yang pergi ke Makkah. Pada tahun 1850, jamaah haji dari Jawa mengirimkan petisi kepada Sultan Ottoman atas adanya perlakuan buruk dan pajak yang tidak adil saat melakukan perjalanan haji. Jamaah haji dari Nusantara yang mendapat kesulitan dan kehabisan bekal saat melaksanaakan ibadah haji juga mendapat bantuan dari pemerintah Ottoman. Selanjutnya pada tahun 1851, Wazir Agung Ottoman melalui utusannya, Syekh Ismail Effendi, mengirimkan surat kepada penguasa Jawa. Dalam surat tersebut disampaikan bahwa melalui utusan yang dikirimkan ke Istanbul, Sultan Ottoman menerima dengan gembira adanya hubungan persahabatan dengan para penguasa Jawa.

Pada tahun 1864, Kekaisaran Ottoman membuka konsulat di Batavia (Jakarta) di bawah kendali Belanda. Hal tersebut bertujuan untuk menunjukkan kehadiran Ottoman terhadap umat Muslim (Indonesia) dan memberikan dukungan. Atas nama Sultan Ottoman, Konsulat Batavia menghadiahkan kepada tokoh Muslim di Jawa sejumlah Al-Qur’an yang ditulis dengan kaligrafi Hafiz Osman dan Şekerci Zåde, yang dicetak dalam Matbaa-i Osmaniye pada tahun 1883. Pada masa itu, jumlah penduduk Muslim di Jawa cukup besar sekitar delapan belas hingga dua puluh juta orang. Pendistribusian Al-Qur’an bagi umat Muslim di Jawa dilanjutkan pada tahun 1891, 600 eksemplar Al-Qur’an yang dicetak di Istanbul telah dibawa ke Konsulat Batavia. Selanjutnya hubungan perdagangan diantara kedua belah pihak semakin berkembang. Selain itu, kehadiran Konsulat Ottoman di Batavia ini juga menjadi babak baru yang membuka kesempatan pendidikan bagi anak-anak Muslim Nusantara ke Istanbul.

Anak-anak Muslim Jawa Menuju Istanbul

Kekaisaran Ottoman pada masa pemerintahan Sultan Abdul Hamid II (1876-1909) membuat kebijakan krusial dalam rangka peningkatan sarana dan pemerataan pendidikan. Sultan membuka kesempatan pendidikan bagi anak-anak Muslim dari pelosok luar wilayah Istanbul seperti Aleppo, Hijaz, Syria, Baghdad, Basrah, Al-Quds, dan lainnya. Kesempatan tersebut dimanfaatkan oleh tokoh Muslim di Jawa untuk mendapatkan kesempatan pendidikan di Istanbul bagi anak-anak mereka. Mulai tahun 1898, sekitar 20 orang anak-anak Muslim dari Nusantara telah datang ke Istanbul. Beberapa anak diantaranya yaitu Abd. Al-Rahman bin Abd. Al-Qadir Al-Aydrus (8 tahun), Adb Al-Muttalib Syahab (10 tahun), Muhammad İhsan (15 tahun), dan Ali (18 tahun). Mereka berada di bawah naungan pemerintah Ottoman dan bersekolah di Aşiret Mektebi, Mülkiye, Daruşşafaka, dan Galatasaray Lisesi. Berbagai buku agama diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa yang kemudian dicetak dan didistribusikan di Istanbul.

Pada 21 Januari 1899, tokoh Muslim keturunan Arab-Jawi mengajukan permohonan kepada Sultan agar putra-putra mereka didaftarkan ke sekolah-sekolah negeri milik Ottoman. Sejumlah 7 anak dikirimkan ke Istanbul dengan Kapal Messagerie. Terdapat 2 anak bernama Ahmad dan Sa’id yang merupakan putera Abd Al-Rahman bin Abdullah Ba Junayd yang merupakan seorang pemimpin komunitas Arab di Buitenzorg (Bogor). Selanjutnya ada 4 anak dari keluarga Abu Bakar Sunkar di Batavia dan 1 anak dari Kutaraja Aceh yaitu Ahmad bin Muhammad Al-Sayyidi. Kedatangan 7 anak ke Istanbul tersebut bersama 2 surat dari Konsulat Batavia dan memorandum dari Kementerian Luar Negeri. Dokumen-dokumen tersebut selanjutnya ditinjau oleh Sultan dan Wazir Agung, setelahnya dokumen tersebut akhirnya disetujui oleh Sultan.

Menteri Pendidikan Ottoman, Zuhdi Paşa, menyambut dengan ramah kedatangan pelajar dari Jawa pada Februari 1899. Anak-anak tersebut dimasukkan ke sekolah Aşiret Mektebi dengan masa studi selama 5 tahun. Pelajaran yang diterima adalah Al-Qur’an, ilmu-ilmu agama (Ulum-i Diniye), bahasa Arab, Türkiye, Prancis, Matematika, Geografi, Sejarah dan ilmu lainnya. Kesempatan pendidikan yang diperoleh anak-anak Muslim Jawa tersebut membawa kekhawatiran tersendiri bagi Belanda yang saat itu merupakan negara koloni yang menguasai Nusantara. Pada tanggal 27 Maret 1899, Menteri Luar Negeri Belanda menerima surat pernyataan terkait situasi anak-anak Muslim Jawa yang belajar di Istanbul. Dalam sidang parlemen Belanda dibahas bahwa apakah anak-anak Muslim dari Jawa yang datang ke Istanbul untuk belajar perlu menghadap Duta Besar Belanda di Istanbul dan apakah pantas untuk mewajibkan pengesahan paspor mereka. Hal tersebut dipertimbangkan karena muncul kekhawatiran jika sekembalinya anak-anak tersebut ke Jawa dapat membawa pandangan politik berbeda atau ideologi baru yang dapat menganggu eksistensi kolonialisme Belanda. Namun, pada akhirnya usulan untuk melapor terhadap Duta Besar Belanda di Istanbul itu dianggap tidak penting sehingga tidak perlu dilakukan.

Sebagaimana mengenyam pendidikan di luar negeri tentunya memerlukan biaya yang tidak sedikit. Sebagai bentuk keagungan dan kemurahan hati Sultan Abdul Hamid II, anak-anak Jawa yang mengenyam pendidikan di Istanbul mendapatkan ‘beasiswa’ berupa uang saku sebesar 80 Kurus setiap bulannya. Para siswa mendapatkan liburan khusus sebanyak sekali dalam dua tahun. Selain itu, para siswa juga berkesempatan untuk masuk ke sekolah-sekolah militer Türkiye dan mendapatkan kedudukan yang tinggi. ‘Beasiswa’ yang diberikan oleh Sultan Ottoman ini tervalidasi oleh memorandum yang dikirim Wazir Agung kepada Kementerian Pendidikan Ottoman. Memorandum tersebut melampirkan surat dari Mehmed Kamil Bey (mantan Konsul Jenderal Batavia untuk Ottoman) untuk menerima anak-anak Muslim Jawa yang dikirim ke Istanbul untuk sekolah dan memberinya uang saku masing-masing sekitar 80 Kurus. Memorandum tersebut dikirimkan kepada Kementerian Pendidikan Ottoman pada 21 September 1903. Setelah anak-anak Muslim Jawa selesai menuntut ilmu dan dinyatalan lulus dari sekolah di Istanbul, mereka diharapkan dapat menyebarkan ilmunya di tempat asalnya, yaitu Nusantara (Indonesia).

Seperti harapan sejak masa Kekaisaran Ottoman, pemerintah Türkiye saat ini melalui program Türkiye Scholarships memberikan beasiswa kepada para pelajar dari berbagai negara seperti Arab, Iran, Irak, Palestina, Azerbaijan, Kazakhstan, Kyrgyzstan, Sudan, Maroko, Algeria, Mesir, Indonesia, Malaysia, Kamboja dan banyak negara lainnya. Setiap tahunnya, ada ribuan pelajar yang datang ke Türkiye untuk menuntut ilmu di berbagai universitas, termasuk pelajar dari Indonesia (Nusantara). Berbagai fasilitas beasiswa yang diberikan pemerintah Türkiye saat ini kepada para pelajar, seperti uang saku bulanan, biaya pendidikan, asuransi kesehatan, visa, tiket pesawat untuk kedatangan dan kepulangan, hingga berbagai program pengembangan keterampilan. Tunjangan beasiswa saat ini sudah sangat jauh berkembang jika dibandingkan dengan masa Kekaisaran Ottoman dahulu. Namun satu hal yang pasti, beasiswa yang diberikan oleh Kekaisaran Ottoman atau pemerintah Türkiye di masa modern ini membawa harapan agar para pelajar yang telah menyelesaikan pendidikannya dapat menyebarkan ilmu pengetahuan di tempat asalnya dan membawa hubungan baik antara negaranya dengan Türkiye.

Kesimpulan

            Kesempatan untuk mengenyam pendidikan adalah hak setiap manusia. Melalui kebijakan pendidikan yang dikeluarkan oleh Sultan Abdul Hamid II, anak-anak Muslim Nusantara khususnya Jawa memperoleh peluang untuk belajar di Istanbul. Penerimaan dengan ramah dan pemberian ‘beasiswa’ berupa uang saku kepada anak-anak Muslim Jawa menjadi bukti bahwa dukungan keuangan merupakan hal yang penting. Hingga masa kini, beasiswa yang diberikan oleh pemerintah Türkiye terus mengalami peningkatan dan perbaikan program. Tujuannya adalah agar para pelajar yang sedang menuntut ilmu tidak lagi khawatir terhadap biaya dan kebutuhan yang diperlukan selama masa belajar, sehingga mereka dapat fokus dalam belajar. Dahulu, adanya kesempatan pendidikan melalui beasiswa Sultan Ottoman membawa kekhawatiran bagi Belanda yang sedang menjajah wilayah Nusantara karena ditakutkan dapat membawa pandangan politik yang dapat membahayakan eksistensi Belanda. Hal tersebut membuktikan bahwa pencerdasan generasi muda adalah hal yang krusial untuk membawa suatu bangsa pada kemajuan dan kemerdekaan. Terbukti hingga saat ini berbagai macam beasiswa diberikan oleh berbagai pihak sebagai program peningkatan kualitas dan pemerataan pendidikan bagi pelajar di seluruh dunia.

Sumber:

A.MKT.MHM, 43/13

BEO, 1261/94534

BEO, 2174/162984

Göksoy, İ. H. (1998). Dutch Policy towards the Indonesian Haj, 1946-1949. İslam Araştırmaları Dergisi, (2), 187-207.

Hamsah, M. I. N. (2022). Kepemimpinan Sultan Abdul Hamid II Pada Masa Daulah Ustmaniyah (1876–1909 M). UİN Alauddin Makassar.

https://www.turkiyeburslari.gov.tr

İ.HR, 290/18200

İ.HR, 321/20729

Mehmet Akif Terzi, Ahmet Ergün, Mehmet Ali Alacagöz. (2017). Osmanli Endonezya Iliskileri. Istanbul: Hitay.

MVL, 232/75

Pandawa, N. (2021). Khilāfah dan ketakutan penjajah Belanda: riwayat Pan-Islamisme dari Istanbul sampai Batavia, 1882-1928. Komunitas Literasi Islam.

Y.A.HUS, 394/96

Catatan: Berdasarkan arsip Ottoman yang digunakan sebagai sumber, para pelajar yang dikirim ke Istanbul disebut sebagai ”Anak-anak Muslim dari Jawa” meskipun tidak menutup kemungkinan bahwa terdapat pelajar dari wilayah lain seperti Sumatera dan Aceh.