PRESS RELEASE DIKSI VOL III X KELAS KEPENULISAN

ANKARA/ONLINE, 04 Juli 2026 — Pusat Studi PPI Turki (PUSPITUR) menyelenggarakan Diskusi Ilmiah (DIKSI VOL. III) berkolaborasi dengan Kelas Kepenulisan, bertajuk “Soshum atau Saintek: Kenapa Tidak Keduanya?”. Kegiatan ini menghadirkan Dr. Rian Sacipto, S.H., M.H., Peneliti Pusat Riset Pemerintahan Dalam Negeri, Organisasi Riset Tata Kelola Pemerintahan, Ekonomi, dan Kesejahteraan Masyarakat, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), sebagai pemantik pertama, serta Ika Nurlaila, Ph.D., Peneliti di bidang Imunologi Kanker, Biologi Molekuler, dan Nanoteknologi BRIN, sebagai pemantik kedua. Kegiatan ini diikuti oleh puluhan mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh studi di Turki.

Diskusi berangkat dari dikotomi antara ilmu pengetahuan dan teknologi (saintek) serta ilmu sosial dan humaniora (soshum) yang telah lama menjadi narasi dominan dalam sistem pendidikan Indonesia. Pemisahan tersebut tidak hanya tercermin dalam struktur dan pilihan jurusan di tingkat pendidikan menengah, tetapi juga memengaruhi cara masyarakat memandang, menilai, dan menempatkan berbagai disiplin ilmu dalam hierarki pengetahuan.

Lebih dari sekadar membahas pilihan jurusan, diskusi ini menyoroti perbedaan karakter dan pendekatan antara sains dan teknologi dengan ilmu sosial dan humaniora. Salah satu isu yang dibahas adalah ketimpangan dalam ekosistem penelitian dan publikasi yang membuat perbedaan antarrumpun keilmuan semakin terlihat.

Dalam diskusi tersebut, turut dibahas adanya publication gap antara bidang soshum dan saintek. Kesenjangan ini berkaitan dengan berbagai faktor, mulai dari akses terhadap pendanaan, kesempatan melakukan penelitian, pola kolaborasi, hingga sistem publikasi yang bekerja secara berbeda di setiap bidang. Selain itu, terdapat pula persoalan publication bias, yaitu kecenderungan hasil penelitian tertentu—terutama hasil yang dianggap positif atau signifikan—memiliki peluang lebih besar untuk dilaporkan dan diterbitkan.

Hal ini menjadi penting karena karya yang pada akhirnya muncul dalam jurnal ilmiah tidak selalu merepresentasikan keseluruhan proses dan hasil penelitian yang telah dilakukan. Terdapat berbagai proses seleksi yang turut menentukan penelitian mana yang diterbitkan, jenis hasil seperti apa yang lebih mudah diterima, serta bidang mana yang memiliki sumber daya lebih besar untuk menjaga keberlanjutan penelitian.

Tekanan terhadap kuantitas publikasi juga menjadi salah satu tantangan dalam dunia akademik. Ketika jumlah artikel, indeksasi, dan sitasi menjadi ukuran utama keberhasilan akademik, kualitas dan kedalaman penelitian berisiko bergeser menjadi sekadar target yang harus dicapai. Kondisi tersebut dapat menjadi tantangan tersendiri, khususnya bagi penelitian yang membutuhkan proses panjang dan berupaya memahami realitas sosial secara lebih mendalam serta kontekstual.

Sebagai salah satu strategi menghadapi dinamika tersebut, peserta diperkenalkan pada pentingnya membangun hubungan antara fenomena lokal dan perdebatan teoretis global. Peneliti dapat menggunakan struktur akademik yang dapat dipahami secara luas tanpa harus menghilangkan kompleksitas konteks yang diteliti. Dalam hal ini, pengetahuan lokal tidak hanya ditempatkan sebagai objek penelitian, tetapi juga dapat dihadirkan sebagai kontribusi substantif dalam pengembangan pengetahuan.

Melalui pendekatan tersebut, riset sosial dan humaniora diharapkan tidak lagi diposisikan sebagai pelengkap dalam sistem pengetahuan global. Pengalaman, persoalan, dan perspektif lokal justru dapat menjadi sumber penting untuk memperluas teori, mengkritisi asumsi yang telah mapan, serta menghadirkan pemahaman yang lebih beragam terhadap realitas sosial.

Diskusi ini juga menegaskan bahwa persoalan saintek dan soshum bukanlah tentang menentukan bidang mana yang lebih unggul. Sebaliknya, peserta diajak untuk memahami bagaimana struktur budaya penelitian, standar publikasi, sistem pendanaan, serta pola kolaborasi dapat memengaruhi perkembangan masing-masing bidang keilmuan.

Pada akhirnya, kedua rumpun ilmu memiliki kontribusi yang saling melengkapi. Saintek dapat menghasilkan berbagai teknologi dan inovasi, tetapi penerapannya tetap membutuhkan pemahaman mengenai manusia, masyarakat, ekonomi, budaya, kebijakan, dan etika. Sebaliknya, ilmu sosial dan humaniora dapat memanfaatkan teknologi, data, dan berbagai pendekatan ilmiah untuk memahami perubahan sosial serta merumuskan solusi berbasis bukti.

Melalui DIKSI VOL. III, PUSPITUR dan Kelas Kepenulisan mendorong peserta untuk tidak lagi melihat soshum dan saintek sebagai dua kutub yang harus dipertentangkan, melainkan sebagai bidang yang memiliki karakter, pendekatan, dan kontribusi masing-masing. Kolaborasi antara keduanya menjadi penting untuk menghasilkan pengetahuan dan solusi yang lebih komprehensif dalam menjawab berbagai persoalan masyarakat kontemporer.